👀
Blitar kabupaten||Suarapublikindonesia.my.id-
kenyataan pahit yang terjadi sampai sekarang dari keterangan warga: judi sabung ayam dan berbagai jenis taruhan berjalan TERANG-TERANGAN, BERANI, SEOLAH HUKUM TIDAK BERLAKU, sudah bertahun-tahun, digerebek tapi selalu buka lagi.
Tepatnya di Dusun Brongkos, Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Blitar — masuk dari jalan desa sekitar 400–500 meter, di tengah kebun dan sawah, dikelilingi pepohonan lebat, tidak terlihat dari jalan besar tapi semua warga dan pemain mengetahui keberadaannya.
Tempatnya besar, bisa memuat lebih dari 200 orang, ada tenda, lampu terang, tempat duduk rapi — dibuat permanen tapi mudah dibongkar pasang kalau ada kabar razia. - Pasti buka setiap hari pasaran Legi, Pahing, Pon, Kliwon — mulai jam 14.00 sore sampai tengah malam, makin malam makin ramai. Hari libur atau hari besar semakin besar, orang datang dari kota Blitar, Kabupaten, bahkan dari Kediri, Tulungagung, Malang.
- Jenis judi: Sabung ayam utama, ditambah dadu, kartu remi, tebak angka, taruhan uang besar. Taruhan mulai Rp 100 ribu sampai lebih dari 10 juta rupiah SEKALI ADU! Uang yang berputar sekali acara bisa menembus 200–300 juta rupiah.terang narasumber
- Aturan mereka: DILARANG keras bawa HP/kamera, kalau ketahuan diambil, dianiaya, diancam nyawa. Ada penjaga di semua jalan masuk, periksa setiap orang yang datang, orang asing ditanya dulu atau dilarang masuk. - Pemilik utama & bos besar: ARIP — warga setempat, telah mengelola lebih dari 10 tahun, dikenal semua orang di dunia perjudian se-Blitar. Dia yang punya tanah, modal, dan mengatur semuanya, jarang keluar sendiri tapi perintahnya mutlak.
- Tim inti: - Sarto & Kasan: urus tempat, siapkan arena, ayam, perlengkapan - Joko & Mat: jaga jalan, awasi, lapor kalau ada polisi atau orang mencurigakan - Rusdi: pegang semua uang taruhan, hitung, bayar, ambil bagian keuntungan - Semua warga nama kenal mereka, semua aparat tahu mereka — tapi sampai sekarang masih bebas bergerak.
Ini
yang paling bikin marah:
-
Sudah digerebek berkali-kali: tempat dibongkar, ayam disita, orang ditangkap — tapi tidak sampai seminggu sudah buka lagi, tempat sama, orang sama, lebih berani dari sebelumnya! Kenapa? Karena yang ditangkap hanya anak buah, bos besarnya aman, dan uang mereka lebih kuat dari hukum.
Mereka membayar uang pelicin besar-besaran — ada oknum yang dibayar diam, dibayar lindungi, bahkan diberi bagian keuntungan. Makanya setiap kali mau digerebek, mereka sudah tahu duluan, langsung bubar, barang dibawa pergi, tempat kosong — sampai polisi datang, tidak ada apa-apa, seolah-olah tidak pernah ada kegiatan.
- Mereka merasa tidak akan pernah tersentuh, merasa berkuasa, merasa tanah ini milik mereka sendiri — warga yang tidak mau ikut malah ditakut-takuti, diancam, diganggu supaya diam saja.jelas keterangan warga.
Yang punya, yang atur, yang dapat untung milyaran rupiah: JELAS ARIP! Anak buahnya Sarto, Kasan, Joko, Mat, Rusdi — semua kami kenal, semua kami lihat setiap hari, semua bukti ada di depan mata! Mereka cuma pindah tempat sedikit, ganti tenda, ganti jalan masuk — tapi kegiatan tetap jalan terus, makin besar, makin berani!
Sudah berapa kali digerebek? Sudah tidak terhitung! Tapi hasilnya apa? Hanya pamer saja, bikin laporan, besoknya sudah buka lagi! Kenapa? Karena mereka bayar orang kuat, ada yang lindungi, ada yang dibayar tutup mulut! Hukum di sini cuma berlaku buat orang kecil, buat orang tidak punya uang — buat mereka yang punya uang dan koneksi, hukum tidak ada artinya!
Judi ini bikin desa kami hancur! Anak muda habis uang, berhutang sampai tulang, keluarga berantakan, sering berkelahi, bahkan ada yang bunuh diri karena kalah judi! Kami warga sudah muak, sudah malu, sudah takut — tapi selama ini diam karena takut dibunuh, takut dibalas, takut dianiaya!pungkas narasumber warga sekitar (team)
